Kamis, 26 Januari 2012

Biografi Habib Lutfi bin Ali bin Yahya bin Hasyin Al Athas


Habib Lutfi dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Bertepatan tanggal 10 November, tahun 1947 M.
nasab beliau :

• Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Umar bin Thoha bin Hasan bin Thoha bin Muhammad al-Qodhi bin Thoha binMuhammad bin Syekh bin Ahmad bin Yahya Ba’Alawy bin Hasan bin Alwy bin Ali bin Al Imam Alwy an-Nasiq bin Al Imam Muhammad Maulad Dawileh bin Imam Ali Maula Darrak bin Al Imam Alwy Al-Ghuyyur bin Al iMam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy bin Al Imam Ali bin Al Imam Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali Qasam bin Alwy binMuhammad bin Alwy Ba’Alawy bin Al Imam Ubaidullah bin Al Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al Imam Isa an-Naqib ar-Rumi bin Al Imam Muhammad an-Naqib bin Al Imam Ali al-Uraidhi bin Al Imam Ja’far Shadiq bin Al Imam Muhammad al-Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abiddin bin Al Imam Husein ash-Sibth bin Sayidatina Fathimah az-Zahra + Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib – Rasulullah SAW
Pendidikan pertama Habib Luthfi diterima dari ayahanda Al Habib Al Hafidz ‘Ali Al Ghalib. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah Salafiah. Guru-guru beliau di Madrasah itu diantaranya:
• Al Alim al ‘Alamah Sayid Ahmad bin ‘Ali bin Al Alamah al Qutb As Sayid ‘Ahmad binAbdullah bin Thalib al Athas
• Sayid al Habib al ‘Alim Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri)
• Sayid al ‘Alim Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi
• Sayid ‘Al Alim Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.
Beliaubelajar di madrasah tersebut selama tiga tahun.
Perjalanan Ilmiah
Selanjutnya pada tahun 1959 M, beliau melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu beliau melaksanakan ibadah haji serta menjiarahi datuknya Rasulullah Saw., disamping menimba ilmu dari ulama dua tanah Haram; Mekah-Madinah. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi.
Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah Khas (khusus), dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tashawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah, sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk membai’at.
Silsilah Thariqah dan Baiat:
Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Yahya mengambil thariqah dan hirqah Muhammadiah dari para tokoh ulama. Dari guru-gurunya beliau mendapat ijazah untuk membaiat dan menjadi mursyid. Diantara guru-gurunya itu adalah:
Thariqah Naqsyabandiah Khalidiyah dan Syadziliah al ‘Aliah
Dari Al Hafidz al Muhadits al Mufasir al Musnid al Alim al Alamah Ghauts az Zaman Sayidi Syekh Muhammad Ash’ad Abd Malik bin Qutb al Kabir al Imam al Alamah Sayidi SyekhMuhammad Ilyas bin Ali bi Hamid
• Sanad Naqsyabandiayah al Khalidiyah:
Sayidi Syekh ash’ad Abd Malik dari bapaknya Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid dari Quth al Kabir Sayid Salaman Zuhdi dari Qutb al Arif Sulaiman al Quraimi dari Qutb al Arif Sayid Abdullah Afandi dari Qutb al Ghauts al Jami’ al Mujadid MaulanaMuhammad Khalid sampai pada Qutb al Ghauts al Jami’ Sayidi Syah MuhammadBaha’udin an Naqsyabandi al Hasni.
• Syadziliyah :
Dari Sayidi Syekh Muhammad Ash’Ad Abd Malik dari al Alim al al Alamah Ahmad an Nahrawi al Maki dari Mufti Mekah-Madinah al Kabir Sayid Shalih al Hanafi ra.
Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah:
• Dari al Alim al Alamah Qutb al Kabir al Habib ‘Ali bin Husain al ‘Athas.
• Afrad Zamanihi Akabir Aulia al Alamah al habib Hasan bin Qutb al Ghauts Mufti al kabir al habib al Iamam ‘Utsman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Bâ ‘Alawi.
• Al Ustadz al kabir al Muhadits al Musnid Sayidi al Al Alamah al Habib Abdullah bin Abd Qadir bin Ahmad Bilfaqih Bâ ‘Alawi.
• Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Ali bin Sayid Al Qutb Al Al Alamah Ahmad binAbdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.
• Al Alim al Arif billah al Habib Hasan bin Salim al ‘Athas Singapura.
• Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim Bâ ‘Alawi.
Dari guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah dan ijazah untuk baiat, talqin dzikir khas dan ‘Am.
Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah:
• Dari Al Alim al Alamah tabahur dalam Ilmu syaria’at, thariqah, hakikat dan tashawuf Sayidi al Imam ‘Ali bin Umar bin Idrus bin Zain bin Qutb al Ghauts al Habib ‘Alawi Bâfaqih Bâ ‘Alawi Negara Bali. Sayid Ali bin Umar dari Al Alim al Alamah Auhad Akabir Ulama Sayidi Syekh Ahmad Khalil bin Abd Lathif Bangkalan. ra.
Dari kedua gurunya itu, al Habib Muhammad Luthfi mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah, talqin dzikir dan ijazah untuk bai’at talqin.
Jami’uthuruq (semua thariqat) dengan sanad dan silsilahnya:
Al Imam al Alim al Alamah al Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain SyekhMuhammad al Maliki bin Imam Sayid Mufti al Haramain ‘Alawi bin Abas al Maliki al Hasni al Husaini Mekah.
Dari beliau, Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah mursyid, hirqah, talqin dzikir, bai’at khas, dan ‘Am, kitab-kitab karangan syekh Maliki, wirid-wirid, hizib-hizib, kitab-kitab hadis dan sanadnya.
Thariqah Tijaniah:
• Al Alim al Alamah Akabir Aulia al Kiram ra’su al Muhibin Ahli bait Sayidi Sa’id bin Armiya Giren Tegal. Kiyai Sa’id menerima dari dua gurunya; pertama Syekh’Ali bin Abu Bakar Bâsalamah. Syekh Ali bin Abu Bakar Bâsalamah menerima dari Sayid ‘Alawi al Maliki. Kedua Syekh Sa’id menerima langsung dari Sayid ‘Alawi al Maliki.
Dari Syekh Sa’id bin Armiya itu Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah, talqin dzikir, dan menjadi mursyid dan ijazah bai’at untuk khas dan ‘am.
Kegiatan-kegiatan Maulana Habib:
• Pengajian Thariqah tiap jum’at Kliwon pagi (Jami’ul Usul thariq al Aulia).
• Pengajian Ihya Ulumidin tiap Selasa malam.
• Pengajian Fath Qarib tiap Rabu pagi(husus untuk ibu-ibu)
• Pengajian Ahad pagi, pengajian thariqah husus ibu-ibu.
• Pengajian tiap bulan Ramadhan (untuk santri tingkat Aliyah).
• Da’wah ilallah berupa umum di berbagai daerah di Nusantara.
• Rangakain Maulid Kanzus (lebih dari 60 tempat) di kota Pekalongan dan daerah sekitarnya. Dan kegiatan lainnya.
Jabatan Organisasi:
• Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah.
• Ketua Umum MUI Jawa Tengah dll.

Biografi KH Hazim Muzadi

PDFToleran Tanpa Mengorbankan Aqidah

Ia dikenal sosok yang moderat dan toleran. Namun selalu berusaha mempertahankan prinsip-prinsip agama. Baginya, sikap moderat dan toleran tidak boleh mengorbankan aqidah.



Sejak kemunculannya, Nahdlatul Ulama telah dan terus mengukuhkan dirinya sebagai organisasi Islam di Indonesia yang harus dipertimbangkan. Dari zaman ke zaman, organisasi yang memayungi kaum Ahlussunanah wal Jama’ah (di samping beberapa organisasi lain yang sealiran) ini banyak melahirkan dan memunculkan tokoh-tokoh besar yang tidak hanya menjadi tokoh kaum muslimin Indonesia, melainkan juga tokoh bangsa secara keseluruhan.

Di antara tokoh yang dibesarkan oleh NU dan juga mengabdikan dirinya untuk NU sejak muda hingga kini adalah K.H. Dr. Hasyim Muzadi. Perjalanan pengabdiannya di NU adalah perjalanan cukup panjang, mulai dari menjadi ketua ranting NU di Bululwang, Malang, hingga mendapatkan amanah sebagai ketua umum PBNU selama dua periode, 2004-2009 dan 2009-2011.  

Berhenti mengemban amanah sebagai ketua umum PBNU tidak membuatnya kehilangan kesibukan, bahkan kesibukannya terus bertambah. Selain mengelola Pesantren Al-Hikam, yang didirikannya di bilangan Depok, Jawa Barat, ia pun tetap aktif dalam berbagai kegiatan di dalam dan luar negeri. Undangan-undangan untuk bicara dalam pelbagai acara pun tetap terus berdatangan, termasuk ceramah-ceramah keagamaan yang memang telah menjadi aktivitasnya sejak muda.

Adik kandung salah seorang tokoh sepuh NU K.H. Muhith Muzadi ini lahir di Tuban, 8 Agustus 1944. Tercatat dua kali ia menjabat ketua umum PBNU, yaitu periode 1999-2004 dan 2004-2009. Ia juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur.

Kiai Hasyim, begitu ia akrab disapa, menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950, dan menuntaskan pendidikan tingginya di Institut Agama Islam Negeri IAIN Malang, Jawa Timur, pada tahun 1969. Selama puluhan tahun pengabdiannya, sebagian besar ia berada di wilayah Jawa Timur. Berbagai aktivitas organisasinya pun ia lalui di daerah basis NU terbesar ini.

Kiai Hasyim pernah menjadi ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Jawa Timur periode 1983-1987. Pada periode hampir bersamaan, ia menjadi ketua PP GP Anshor tahun 1985-1987. Jauh sebelumnya, tahun 1966 ia pernah memimpin Cabang PMII Malang. Hal inilah yang menjadi modal struktural kuat Hasyim untuk terus berkiprah di NU.

Dalam periode yang panjang, ia menekuni aktivitas di NU secara berjenjang, sehingga memberikan pengalaman yang banyak dan berharga baginya. Ia memulainya dari ketua ranting NU Bululawang, Malang.

Kiprah di NU mulai dikenal luas ketika pada tahun 1992 ia terpilih menjadi ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, yang kemudian menjadi tangga baginya untuk menjadi ketua PBNU pada tahun 1999.

Sebagai organisasi keagamaan yang memiliki massa besar, NU selalu menjadi daya tarik bagi partai politik untuk dijadikan basis dukungan. Hasyim pun tak mengelak dari kenyataan tersebut. Ia pernah menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan.

Namun, jabatan sebagai ketua umum PBNU-lah yang membuat Hasyim sering menjadi pembicaraan publik dan banyak diundang ke berbagai wilayah. Saat telah menjadi pucuk pimpinan NU, wilayah aktivitas alumnus Pondok Pesantren Gontor Ponorogo ini tidak hanya meliputi Jawa Timur, namun telah menasional.

Basis struktural yang kuat itu masih pula ditopang oleh modal kultural yang sangat besar, karena ia memiliki Pesantren Al-Hikam, Malang, yang memiliki santri yang tidak sedikit dan memiliki kemampuan intelektual yang tidak bisa diremehkan, karena mereka juga para mahasiswa.

Selain sebagai ulama, Kiai Hasyim juga dikenal sebagai sosok nasionalis, demokrat, yang sangat toleran. Ketika terjadi Peristiwa 11 September, yakni tragedi runtuhnya gedung WTC di Amerika Serikat, kiai yang dikaruniai enam orang putra ini tampil dengan memberikan penjelasan kepada dunia internasional bahwa umat Islam Indonesia adalah umat Islam yang moderat, kultural, dan tidak memiliki kaitan dengan organisasi kekerasan internasional. Ia memang salah satu dari sekian tokoh umat di Indonesia yang dijadikan referensi oleh dunia Barat dalam menjelaskan karakteristik umat Islam di Indonesia.

Kiai Hasyim terjun dalam kegiatan politik praktis sejak Orde Baru masih berkuasa. Dalam perjalanan karier politiknya, ia pernah membuat langkah yang agak mengejutkan, utamanya bagi kalangan nahdliyin. Yaitu, menerima lamaran PDI Perjuangan untuk menjadi cawapres sebagai pendamping Megawati. ”Saya ingin menyatukan kaum nasionalis dan agama,” ujarnya ketika berorasi dalam deklarasi pasangan capres dan cawapres Megawati-Hasyim Muzadi di tahun 2004 itu.

Saat itu tak sedikit yang mencibir dan menyayangkan langkahnya terjun ke politik praktis, termasuk pewaris darah biru kaum nahdliyin, Gus Dur.

Terlepas dari hasil yang dicapainya kemudian, langkahnya maju sebagai cawapres tentu memberikan pengalaman yang tidak sedikit baginya dan tentu semakin mematangkan pribadinya.

Pengalaman organisasinya segudang. Ia pernah aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia) tahun 1960-1964, kemudian menjadi ketua ranting NU Bululawang-Malang, lalu dipercaya sebagai ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang-Malang 1965. Ia pun pernah menjadi ketua Cabang PMII Malang 1966, lalu ketua KAMI Malang 1966, ketua Cabang GP Ansor Malang 1967-1971, wakil ketua PCNU Malang 1971-1973, ketua DPC PPP Malang 1973-1977, ketua PCNU Malang 1973-1977, ketua PW GP Ansor Jawa Timur 1983-1987, ketua PP GP Ansor 1985-1987, sekretaris PWNU Jawa Timur 1987-1988, wakil ketua PWNU Jawa Timur 1988-1992, ketua PWNU Jawa Timur 1992-1999, dan mencapai puncaknya ketika menjabat ketua umum PBNU periode 1999-2004 dan periode 2004-2009.

Di kancah politik, ia juga pernah menjadi anggota DPRD Tingkat II Malang, Jawa Timur, dan kemudian menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur 1986-1987

Sedangkan pendidikannya dimulai dari Madrasah lbtidaiyah Tuban, Jawa Timur, 1950-1953, kemudian SD Tuban, Jawa Timur, 1954-1955, dilanjutkan ke SMPN I Tuban, Jawa Timur, 1955-1956. Setelah itu perjalanan keilmuannya membawanya ke Pesantren Gontor, Ponorogo, dan menimba ilmu di sana dalam kurun waktu 1956 sampai 1962.

Tak puas hanya belajar di Gontor, ia pun sempat belajar di pesantren-pesantren salaf, yakni di Pesantren Senori (Jawa Timur) dan kemudian Pesantren Lasem (Jawa Tengah) meskipun tidak lama. Tahun 1964 ia mengikuti kuliah di IAIN Malang hingga selesai tahun 1969.

Dalam musim haji tahun ini, ia dipercaya sebagai wakil amirul hajj Indonesia mendampingi Menteri Agama Suryadharma Ali, yang menjadi amirul hajj. Saat wukuf di Arafah, Kiai Hasyim Muzadi-lah yang menyampaikan khutbah wukuf. Banyak yang menilai, apa yang disampaikannya sangat bagus dan berbobot. Demikianlah memang adanya. 

Sejak jauh sebelum menjadi ketua PBNU sampai ketika menjabatnya dan hingga kini setelah tidak lagi menjadi ketua PBNU, Kiai Hasyim juga terus mengikuti dan mencermati perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan secara aktif melakukan langkah-langkah nyata untuk ikut berperan membenahi persoalan-persoalan umat dan bangsa. Misalnya saja dalam kaitan aksi-aksi terorisme dan radikalisme.

Kiai Hasyim, yang kini masih menjabat sekretaris jenderal International Conference of Islamic Scholar (ICIS), mengatakan, penanggulangan aksi terorisme dan radikalisme tidak bisa hanya dilakukan satu institusi, tetapi harus bersama-sama, melibatkan berbagai unsur. “Aksi terorisme dan gerakan radikalisme sudah menjadi ancaman bagi masyarakat. Untuk itu penanganannya harus dilakukan bersama-sama,” katanya di sela-sela acara Training of Trainers Ulama dan Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia di Pesantren Al-Hikam, Depok, Jawa Barat, Minggu 16 Oktober 2011.

Ia juga menegaskan, Islam moderat yang tetap mengadopsi kearifan lokal perlu terus dikembangkan, karena, berdasarkan pengalamannya, konsep Islam moderat yang sering disampaikannya dalam berbagai forum internasional mendapatkan sambutan yang cukup baik.

“Di Indonesia penerapan hidup berdampingan dan toleransi antar-sesama berjalan dengan baik, dan itu diakui dunia, namun kita belum sepenuhnya menggali dan menerapkan kemampuan itu,” ujarnya.

Untuk itu, katanya, Islam moderat yang menekankan Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta) adalah yang harus diterapkan, sehingga sudah saatnya warga NU memperkuatnya dengan mengumpulkan khazanah pemikiran untuk didokumentasikan dengan baik sebagai bahan dakwah.

Selain itu, katanya, juga perlu adanya perbaikan berbagai sistem di Indonesia. Ia mencontohkan, UU yang berlaku saat ini membuat pihak eksekutif mengalami keterbatasan dalam menjalankan fungsinya dan terperangkap dalam jebakan sistem. “Ini menyebabkan pemimpinnya ragu menjalankan kebijakan, karena dibatasi oleh sistem yang ada,” ujarnya.

Polisi, ia melanjutkan, juga baru bisa menangkap pelaku teroris kalau sudah melakukan pengeboman dan teror, karena mereka bisa dianggap melakukan pelanggaran HAM jika tidak ada bukti.

Karena beberapa pelaku teroris ada yang pernah belajar di pesantren, selama ini terorisme sering dikaitkan dengan pesantren. Meskipun demikian, ia sangat mewanti-wanti, jangan sampai langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi masalah itu merugikan pesantren. Apalagi dijadikan alat untuk membatasi ruang gerak pesantren. Harus tepat sasaran dan harus dapat membedakan mana pesantren yang terkait dengan gerakan-gerakan itu dan mana yang bukan. Itu harapan yang sangat ditekankannya. Bahkan faktanya, tidak satu pun teroris itu berasal dari pesantren NU, atau yang sealiran.
Ia juga mengatakan bahwa mereka yang termasuk dalam kelompok garis keras itu harus dirangkul dan disadarkan, bukan dimusuhi dan dibasmi. Yang harus dimusuhi dan dibasmi adalah tindakannya dan pemikirannya, bukan orangnya. Kecuali mereka yang telah melakukan teror dan tindakan-tindakan kriminal. Tentu harus ditangkap dan diproses secara hukum.     

Lebih lanjut ia mengatakan, sejak awal NU tetap konsisten menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara, karena substansi Pancasila juga merupakan bagian darikaidah ushuliyah.

“Perjuangan merebut kemerdekaan merupakan hasil jerih payah semua pejuang warga Indonesia, tanpa pandang bulu,” katanya.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa liberalisasi agama perlu mendapatkan perhatian serius karena dapat mengakibatkan dampak buruk dalam kehidupan keagamaan. “Liberalisasi agama memiliki dampak yang bahaya bagi aqidah Islam, terutama di kalangan kaum muda,” kata Kiai Hasyim dalam acara tersebut. Dalam konteks inilah, kita, umat Islam, seharusnya tidak memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan pemikirannya yang merusak prinsip-prinsip aqidah. Namun, kita juga tidak boleh terjebak pada tindakan yang anarkis.

Ia mengatakan, liberalisasi agama telah menjadikan obyek sasarannya pada dua ormas besar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Secara makro, liberalisasi agama adalah bagian dari liberalisasi secara umum.

Hasyim Muzadi menilai, Indonesia saat ini dipojokkan dan diganggu, dari dalam maupun luar.

Dikatakannya, demokrasi yang sudah berjalan saat ini mendapatkan ujian. Ibarat perahu, kita ini diombang-ambing di tengah laut lepas, dibiarkan tanpa ada penunjuk arah.

Ia mengatakan, untuk mengatasi ujian itu salah satunya adalah melalui Islam yang moderat, yaitu antara liberal dan radikal. Dengan kata lain, NU, yang terkenal moderat, bisa menjadi jalan tengah di antara dua gerakan tersebut.

Dikatakannya, hal itu bisa dilakukan dengan cara mengumpulkan khazanah pemikiran Walisanga dan ulama untuk didokumentasikan secara baik.

Di tengah-tengah kesibukannya, beberapa buku berbobot telah lahir lewat goresan penanya. Di antaranya Membangun NU Pasca Gus Dur (Grasindo, Jakarta, 1999),NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa (Logos, Jakarta, 1999), dan Menyembuhkan Luka NU (Logos, Jakarta, 2002).

Biografi KH Yahya Wahid Dahlan AlMutakamakin






kk
Secara akademis, ilmu sains, teknologi, dan sebagainya, mereka memang menguasai dengan baik. Namun jika pemahaman spiritualnya kering, akan muncul keadaan seperti sekarang ini: pejabat pintar tapi keblinger, pintar membodohi rakyat.




Melihat nama belakang tamu kita ini, ingatan kita segera tertuju pada satu sosok ulama kharismatis, asli Kajen, Jawa Tengah, Syaikh Ahmad Mutamakkin. Konon, Mbah Mutamakkin, sebutan populer Syaikh Ahmad Mutamakkin, adalah seorang tokoh yang menjadi cikal bakal atau nenek moyang orang Kajen dan sekitarnya, termasuk Purwodadi. Salah satunya, ya, Gus Yahya, demikian biasanya K.H. Yahya Al-Mutamakkin disapa.

Nama belakang “Al-Mutamakkin” tentu diambil dari nama sang buyut. Menurut Gus Yahya, penisbahan nama sang leluhur bukan untuk gagah-gagahan, melainkan menjaga silsilah. Lebih dari itu, sang abah, K. H. Abdul Wahid Al-Mutamakkin, ingin agar nama itu dapat menjadi sesuatu yang membuat putranya selalu bercermin dengan kealiman Mbah Mutamakkin.

Sementara nama Yahya itu sendiri diambil abahnya, yang terilhami dari nama seorang waliyullah asal Blora, Kiai Yahya. Semasa hidupnya, Kiai Yahya sengaja menjauh dari kota untuk menghindari fitnah, menuju ke pelosok desa untuk beribadah. Ulama-ulama alim dahulu memang seperti ini. Bila di kota sudah semakin ramai dan penuh maksiat, ia akan hijrah ke desa yang lebih kondusif untuk ibadah.

Seperti yang pernah dilakukan datuk para habib, Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Kala itu, Al-Muhajir hendak bertolak dari Baghdad lantaran daerah itu sudah cukup ramai. Untuk mendapatkan tempat yang lebih steril dari fitnah, ia beserta rombongan hijrah ke Hadhramaut.

Lagi-lagi, sang abah memiliki tujuan khusus dengan nama yang diberikannya pada sang putra. Apa lagi kalau bukan menjadi doa agar Gus Yahya mampu meneladani akhlaq dan ilmu Kiai Yahya. Maka, sejak lahir pada tahun 1975, nama “Yahya Al-Mutamakkin” menjadi nama resmi Gus Yahya, sapaan akrabnya.

Kepribadian Gus Yahya amat bersahaja. Tutur katanya lembut, bahasanya santun, suaranya pelan, namun tetap terdengar tegas. Ia juga sangat rendah hati. Wawasan keagamaannya luas. Dalam perbincangan, sesekali ia menyitir ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda Rasulullah SAW.

Nyantri ke Luar Negeri
Sedari kecil, Gus Yahya mengenyam pendidikan agama dengan baik. Lazimnya anak kiai pada masa itu yang mendapatkan pendidikan agama pertama langsung dari sang abah, ia pun demikian. Dengan telaten abahnya mengajar Gus Yahya.

Sebetulnya ia sempat sekolah formal hingga kelas 3 SD. Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya ia keluar dan belajar secara khusus dengan seorang guru di rumahnya.

Ketika usinya mulai beranjak dewasa, Gus Yahya melanjutkan belajar di Pesantren K.H. Abdul Selo, Pesantren K.H. Umar Ali, yang masih terhidung famili, dan tentunya di pesantren datuknya, Mbah Mutamakkin, Kajen.

Tidak cukup sampai di situ, ia juga melanjutkan belajar ke Bangil, Jawa Timur.

Merasa belum puas dengan ilmu yang selama ini didapat, saat usianya beranjak 16 tahun, ia belajar kepada Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi, Solo. Di tempat terahir ini, ia nyantri cukup lama, kurang lebih selama empat tahun, sejak tahun 1991 hingga tahun 1995.

Gus Yahya merasa bersyukur lahir dari keturunan Mbah Mutamakkin. Bukan bermaksud mengkultuskan, namun, baginya, anugerah ini menjadi keuntungan tersendiri bagi anak keempat dari delapan bersaudara ini. Sehingga abahnya, yang juga seorang ulama, memiliki himmah yang tinggi terhadap ilmu agama. Ini diwariskan sang buyut. Dan semangat itu juga yang diwariskan sang abah kepada Gus Yahya, sehingga abahnya selalu mendukung dan memotivasi agar Gus Yahya tak pernah berhenti belajar. Bahkan hingga ke mancangara.

“Abah memang begitu memotivasi saya untuk belajar kepada para ulama yang hebat di mancanegara. Ini bukan bermaksud mengecilkan peran ulama Indonesia, biar bagaimanapun banyak ulama Indonesia yang memiliki reputasi sekaliber ulama internasional. Akan tetapi yang dimaksud oleh sang abah, apabila berkesempatan belajar di macanegara, khususnya di negeri para nabi, ada keistimewaan tersendiri, yakni saya bisa mendapatkan berkah pada tempat-tempat tertentu, seperti Makkah dan Madinah, yang tidak terdapat di Indonesia. Selain itu tentunya bisa membangun jaringan dengan ulama internasional,” kata Gus Yahya.

Pucuk dicita, ulam pun tiba. Pada tahun 1995, Gus Yahya berkesempatan berangkat ke Madinah, belajar bersama Habib Zein Bin Sumaith. Kesempatan ini merupakan hadiah dari sang guru tercintanya, Habib Anis Al-Habsyi.

Alkisah, sebelum berangkat ke Madinah, Gus Yahya sempat mendapatkan tawaran dari Dr. Abdullah Al-Yamani untuk belajar di beberapa negeri, seperti Amerika dan Pakistan. Ulama dari Jeddah ini memang dikenal sangat antusias kepada pelajar Indonesia yang memiliki motivasi belajar di luar negeri.

Sebagai seorang murid, Gus Yahya mengkonsultasikan perihal tersebut kepada Habib Anis. Akan tetapi habib yang murah senyum ini kurang setuju bila Gus Yahya mengambil tawaran Dr. Abdullah Al-Yamani, ia menasihati Gus Yahya untuk bersabar.

Tahun 1993, Habib Anis bersama rombongan berangkat ke Hadhramaut dan Madinah. Rupanya, saat Habib Anis bertemu Habib Zein Bin Sumaith di Madinah, beliaulah yang mendaftarkan Gus Yahya. Tentu saja jalannya menjadi mulus dengan campur tangan Habib Anis.

Maka berangkatlah Gus Yahya ke Madinah pada tahun 1995.

Habib Zein menerima dengan senang hati.

“Subhanallah, saya yang dhaif ini mendapat perlakuan istimewa, baik zhahir maupun bathin, dari Habib Zein. Tentu ini berkat Habib Anis,” kata Gus Yahya merendah.

Gus Yahya begitu mengagumi sosok gurunya ini. “Kekaguman saya kepada almarhum tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Beliau adalah suri teladan yang hampir-hampir sempurna. Baik itu ilmu, keperibadian, maupun akhlaqnya. Beliau selalu tersenyum kepada siapa saja dan dalam keadaan apa saja. Akhlaq mulia lainnya, beliau begitu memuliakan tamu.

Suatu ketika pernah ada tamu yang akan datang dan kebetulan beliau meminta saya untuk merapikan kamar tamu tersebut. Saat itu beliau berpesan, ‘Bersihkan dengan sebaik-baiknya, kalau untuk tamu itu harus yang terbaik, bahkan yang jauh lebih baik dari kita’,” kata Gus Yahya mengenang.

Almarhum juga pernah berpesan khusus kepada Gus Yahya sesaat sebelum berangkat ke Madinah. Saat itu almarhum Habib Anis sedang sakit dan berobat ke Jakarta. Sebagai seorang murid, Gus Yahya sangat ingin bertemu untuk berpamitan dengan sang guru. Syukur-syukur bisa mendapatkan nasihat untuk bekal selama di kota Nabi. Apalagi Habib Anis memiliki peran penting dalam kepergiannya itu. Ia berusaha mencari keberadaan Habib Anis, ke sana-kemari.

Singkat cerita, Gus Yahya berhasil menemukannya di salah satu kediaman kerabatnya di bilangan Jakarta.
“Saat itu saya hanya berbicara berdua dengan beliau. Beliau memberikan beberapa wasiat, namun yang masih saya ingat di antaranya, ‘Apa yang sudah kamu terima dari Masjid Ariyadh, Solo, seperti wirid dan amal lainya, kamu istiqamahkan.’

Bahkan tidak hanya nasihat, beliau juga sempat memberikan sangu (ongkos), padahal saya muridnya, seharusnya saya yang lebih pantas memberikan itu kepada beliau,” tutur Gus Yahya sumringah.

Di Madinah, Gus Yahya nyantri selama empat tahun. Di kota Nabi SAW itu, ia belajar ilmu fiqih, alat, tasawuf, tafsir, dan sebagainya, kepada Habib Zein Bin Sumaith, Habib Salim Asy-Syathiri, yang sebelum menetap kembali di Hadhramaut masih mondar-mandir Madinah-Tarim, dan ulama yang lainnya.

Satu pembelajaran unik di Madinah yang mungkin tidak didapatkan di tempat lain, kala itu, yaitu sistem ujian Habib Zein. Santri diajak untuk mengasah kecerdasan dan menguatkan hafalan dengan cara diskusi dan ujian setiap pekan. Habib Zein sendiri yang bertanya kepada santri tentang hukum dan dalil suatu permasalahan. Waktunya dua kali dalam sepekan.

Bagi Gus Yahya, sistem seperti itu begitu berkesan. Padahal umumnya seorang siswa atau santri merasa takut bila menghadapi ujian. Apalagi dalam waktu yang sering. Biasanya ujian itu setahun dua kali, bukan seminggu dua kali. Namun ini tidak berlaku bagi Gus Yahya. Ujian dua kali dalam seminggu bukan menjadi momok baginya. Inilah media baginya untuk mengukur pemahamannya selama ini. 

Setiap Jum’at malam ujian nahwu dan Sabtu pagi ujian fiqih. Karenanya tidak mengherankan bila santri-santri Habib Zein terkenal dalam penguasaan masalah fiqih, sedikit banyak karena pengaruh sistem ujian seperti itu.

Tahun 1999, seiring waktu belajarnya akan usai, Gus Yahya mulai bimbang. Apakah ia harus kembali ke Indonesia, atau tetap belajar kepada Habib Zein di Madinah. Muslim mana yang tidak betah tinggal di Madinah, nikmatnya masya Allah....

Ketika tengah berada di Masjid Nabawi, ia mengkonsultasikannya kepada sang guru.

Setelah ia menceritakan permasalahannya, dengan tegas Habib Zein menasihati, “Sebaiknya kamu lihat yang paling bermanfaat dan afdhal buat umat. Apabila kamu lebih dibutuhkan di Indonesia, pulanglah. Sebaliknya, bila menurut kamu belajar di Madinah itu yang terbaik, menetaplah.”

Saat itu juga Gus Yahya langsung mendapatkan jawaban, seolah isyarah dari Allah SWT, ia begitu yakin untuk memilih pilihan pertama, kembali ke Indoensia. Menurutnya, orangtua mengirimnya belajar hingga ke luar negeri bukan tanpa alasan. Ia yakin, ketika dirasa telah memiliki cukup bekal ilmu ia memang harus kembali membatu sang abah meneruskan perjuangannya dalam berdakwah.

Mulai Berdakwah
Awalnya, sekembali dari Madinah pada tahun 1999, Gus Yahya sempat berdakwah di Jakarta. Di Ibu Kota, ia tinggal di kediaman ayah angkatnya, H. Mustofa, daerah Kalibata, yang mendirikan Yayasan Al-Azhari. Sambil berdakwah, ia juga memanfaatkan waktunya untuk menjalin silaturahim dengan para alumnus dari Madinah.

Bersama salah satu kawan dekatnya, asal Bekasi, Habib Muhammad Vad’aq, ia menggagas terbentuknya organisasi murid-murid Habib Zein, yang menampung seluruh alumnus. Pada tahun yang sama, berdirilah organisasi Ath-Thayyibah.

Masih di tahun yang sama, Gus Yahya sempat berencana untuk membangun pesantren di bilangan Cibitung, Bekasi. Kala itu ada salah seorang hartawan yang mewakafkan tanah seluas 5.000 m untuk santri Habib Zein.

Namun, setelah beristikharah, Gus Yahya mendapatkan petunjuk dari Allah SWT untuk hijrah ke arah wetan atau timur. Maka ia tidak jadi mendirikan pesantren di Kota Patriot itu.
Tahun 2000, ia pun memutuskan kembali ke Jawa Tengah. Namun tidak langsung kembali ke kampung halaman untuk mengasuh pesantren peninggalan datuknya, K.H. Dahlan Al-Mutamakkin, ia memilih mendirikan pesantren di Semarang.

Pesantren Mahasiswa
Tumbangnya rezim Soeharto sedikit banyak merupakan kontribusi mahasiswa. Peran mahasiswa sebagai agent of change harus dibentengi dengan ilmu agama.

Secara akademis, ilmu sains, teknologi, dan sebagainya, mereka memang menguasai dengan baik. Namun jika pemahaman spiritualnya kering, akan muncul keadaan seperti sekarang ini: Pejabat pintar, tapi keblinger, pintar membodohi rakyatnya. Banyak yang ahli dalam bisnis, tapi lihai memanipulasi.

Berangkat dari sini, Gus Yahya bersama sahabatnya, K.H. Musolih Azhari dan Habib Hasan, mendirikan pesantren mahasiswa. Pembelajarannya seputar fiqih, akhlaq, tasawuf, tafsir, dan sebagainya. Misinya, untuk mencetak intelektual muslim dan muslim intelektual serta santri yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan sarjana yang berjiwa santri.

Selain mengajar di pesantren mahasiswa, ia juga mengembangkan dakwah remaja dengan cara keliling dari satu masjid kampus ke masjid kampus lain. Namanya Majelis Dakwah Pemuda Al-Izzah. Remajanya masih dari kalangan mahasiswa. Namun berbeda dengan pesantren mahasiswa, kajian ini digelar sekali dalam sepekan dan jama’ahnya tidak hanya santri mahasiswa.

Dengan menggunakan metode pendekatan ilmiah, presentasi, diskusi, dan lain-lain, pengajian ini kerap membahas tema-tema permasalahan bangsa dan umat saat itu, agar kontekstual dan mampu menarik jama’ah.

Misalnya, saat ini kembali mencuat isu terorisme. Karena terorisme sering dikait-kaitkan dengan jihad, padahal sesungguhnya tidak ada kaitannya sama sekali, pengajiannya pun membahas kosep seputar jihad.

Menanggapi bahwa terorisme juga terjadi di antara sesama umat Islam, “Sebetulnya bila dicari akar permasalahannya, kelompok radikal itu bersumber dari kelompok yang suka membid’ahkan orang lain, menuduh amaliah sunnah sebagian bid’ah, sesat, dan syirik.... Pada akhirnya mereka merasa bahwa hanya merekalah yang benar. Mereka ingin mengubah namun tidak memiliki kemampuan... maka akhirnya menggunakan jalan pintas, jihad yang salah,” kata Gus Yahya.

Dalam setiap ta’limnya, Gus Yahya selalu menekankan pentingnya belajar kepada seorang guru yang telah jelas keilmuan dan aqidahnya, yang umumnya, selain melakukan perintah Allah SWT, juga mendawamkan amaliyah sunnah Rasulullah dan salafush shalih. Sejatinya, dalam belajar, seorang murid juga harus mengikuti petuah dan nasihatnya, tidak sebatas mengikuti pakaian dan jubahnya. 

Ada kisah dari seorang ulama tasawuf, Abu Yazid Al-Busthami. Satu hari, ada seseorang mendatanginya dan berkata, “Wahai Imam, saya ingin jubah antum, berikan kepada saya, agar saya mendapatkan keberkahan.”

Abu Yazid menjawab, “Jangankan jubahku ini, kalaupun engkau meminta kulit yang melindungi dagingku ini, akan aku sayat dan berikan kepadamu. Tapi sebetulnya ini tidak akan bermanfaat bila engkau tidak mengikuti petuah dan nasihatku, engkau akan mendapatkan barakah bila menjalankan bimbinganku....”

Kini, Gus Yahya memimpin Pesantren Darut Tauhid Al-Mutamakkin, peninggalan sang datuk. Nama Darut Tauhid diberikan oleh abahnya, yang mendapat nama dari ulama kenamaan asal Makkah, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Sementara Al-Mutamakkin diambil untuk bertabarruk kepada buyutnya, Mbah Mutamakkin. Dahulu pesantren ini belum memiliki nama, lazimnya pesantren-pesantren dahulu yang hanya dinamai dengan nama daerah.

Meskipun saat ini ia telah menetap dan mengasuh pesantren di Purwodadi, melanjutkan ta’lim abahnya setiap Ahad Legi, dua pekan sekali setiap Rabu, Gus Yahya masih aktif menjalankan aktivitasnya mengajar di pesantren mahasiswa dan pengajian remaja di Semarang dan tempat-tempat lainnya.

keutamaan sholawat


 bertepatan dengan bulan Robi’ul Awal. Bulan penuh dengan kenangan bahkan bulan yang menurut sebagian ulama adalah bulan yang paling mulya dari bulan-bulan yang lain. Kenapa? Karena pada bulan ini Seorang Nabi dilahirkan ke dunia untuk membawa ajaran Islam. Membawa cahaya terang bagi ummat manusia. Yaitu Nabi Muhammad SAW. Dilahirkan di kota Mekkah pada tanggal 12 Robi’ul Awal bertepatan dengan tahun Gajah. Karena pada saat itu tentara Abrahah dengan pasukan yang berkendaraan Gajah mau menghancurkan Ka’bah. Tapi alhamdulillah Allah melindungi ka’bah dengan mengirimkan burung Ababil dan melemparkan butiran-butiran kerikil dari api neraka.Sehingga tentara Abrahah yang besar dan tak terkalahkan itu kocar kacir dan musnah.
Itu adalah pristiwa pada saat dilahirkan Nabi Muhammad SAW. Kali ini saya akan paparkar keutamaan-keutamaan kalau kita sebagai Ummat islam ( Maaf no sara ) membaca shalawat kepada Nabi Muhammad. Di bulan Robiul Awal ini, sepantasnyalah kita mengingat sejarah Nabi Muhammad. Termasuk juga memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca shalawat artinya adalah mendoakan nabi Muhammad SAW agar Allah senantiasa memberikan rahmat atau kasih sayangNya kepada Nabi. Loh, kenapa Nabi masih didoakan agar diberikan kasih sayang oleh Allah ? Alasannya adalah karena mengingat dan mengenang jasa jasa beliau yang telah menyebarkan Islam sehingga kita berada di dalam agama Islam. Alasan berikutnya adalah nabi Muhammad ibarat sebuah gelas yang telah penuh berisi air. Tapi kita tetap isi air tersebut sehingga air tumpah keluar. Nah akan diapakan tumpahan air tersebut? Harapan kita adalah air tersebut akan menjadi minuman kita kelak di akherat. Demikian juga shalawat. Kita doakan nabi agar mendapatkan Rahmat dari Allah SWT. Harapan kita adalah nabi akan menumpahkan air shalawat atau rahmat itu kembali kepada kita Ummat Islam. Berikut akan saya berikan sekilas tentang keutamaan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW :

Perintah Allah dengan FirmanNya : Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat pada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bacalah shalawat dan salam pada nabi dengan sesungguhnya.
Hadits nabi : Rosulullah bersabda : Barang siapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah akan bershalawat ( memberikan rahmat ) untuknya 10 kali. Siapa yang membaca shalawat untukku 10 kali maka Allah bershalawat ( memberikan rahmat ) 100 kali. Siapa yang membaca shalawat untukku 100 kali maka Allah akan menulis di antara kedua matanya kebebasan dari Munafik ( orang kafir berpura-pura Islam padahal hatinya tidak ), akan dibebaskan dari api neraka, dan ditempatkan nanti di hari kiamat dengan kelompok orang yang mati syahid.
Nabi bersabda : bacalah shalawat untuk karena bacaan shalawatmu akan menjadi penebus dosa-dosamu dan akan menjadi kesucian untukmu. Siapa yang membaca shalawat untukku satu kali maka Allah akan memberikan rahmat dan kasih sayangNya 10 kali lipat.
Masih banyak hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Marilah kita bershalawat untuk Nabi. Semoga kita akan mendapatkan syafaat-syafaatnya baik di dunia dan akherat. Amien Amien ya Mujibassailin


Nabi Muhammad SAW adalah nabi Ummat Islam di seluruh dunia. Beliau adalah Nabi akhir zaman. Penutup para Nabi. Khotamun Nabiyyin. Tidak akan ada nabi yang akan diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalahNya setelah Nabi Muhammad. Jabir pernah bertanya kepada Nabi Muhammad, ” Ya Rosulallah, Demi Ayah dan Ibuku, sampaikan pada saya tentang sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT sebelum menciptkan yang lain”. Nabi Menjawab, wahai Jabir, sesungguhnya Allah menciptkan Nur Nabimu Muhammad SAW sebelum menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini. Dan segala sesuatu di alam semesta ini adalah dari cahaya Nabi Muhammad SAW. Dan Nabi pernah bersabda, saya adalah Nabi yang diciptakan pertama kali dan diutus paling akhir.
Pada tanggal 12 Robiul Awwal 1433 H tepatnya hari ini tanggal 5 Februari 2012 kita memperingati hari kelahiran beliau. Nabi Muhammad lahir di kota Mekkah dan wafat di kota Madinah. Beliau lahir dengan penuh keajaiban-keajaiban. Di antara yang saya ketahui ketika lahirnya Nabi Muhammad seluruh pepohonan yang tidak pernah berbuah waktu itu langsung berbuah, api yang tak pernah padam dan menjadi sesembahan warga Majusi, ketika lahir nabi apa itu langsung padam. Ketika beliau lahir langsung sujud kepada Allah SWT. Ada lagi ketika beliau lahir sang ibu tak merasakan sakit sedikitpun. Tidak ada darah bercecer bekas melahirkan.

Makna Peringatan Maulid Nabi
Peringatan maulid adalah upaya mengenang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tentu saja tidak hanya mengingat hari lahir beliau. Tapi juga mengingat jasa-jasa beliau yang telah menyebarkan agama Islam ke seluruh dunia termasuk kepada kita. Ingat juga pada sifat-sifatnya yang luhur budi, penyabar, rendah hati dan lain – lain. Sikapnya yang tegas menyebarkan dakwah Islam patut kita teladani. Makna peringatan maulid adalah menyegarkan kembali ingatan kita akan ajaran Nabi dan kita harus siap untuk melaksanakannya.
Memperingati hari lahir tidak boleh hanya sebagai kegiatan ritual semata. Tapi harus diaplikasikan atau diwujudkan dalam aktivitas nyata kita di kehidupan sehari-hari. Jika ada yang memperingati maulid dengan menyediakan makanan dan buah-buahan itu oke – oke saja dan tentu saja halal. Yang paling penting adalah niatnya. Karena segala sesuatu itu tergantung pada niat kita. Menyiapkan makanan dan buah-buahan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW tentu sangat baik. Niatnya tentu saja adalah untuk memperbanyak sedekah kepada orang yang kita undang untuk peringatan maulid. Jika kita mampu mengapa kita tidak ajak orang berkumpul sambil membaca shalawat setelah itu menghidangkan makanan ala kadarnya sesuai dengan kemampuan.
Dengan Peringatan Maulid Nabi bisa mengingatkan kita untuk selalu membaca shalawat ( doa keselamatan untuk Nabi ) karena membaca shalawat mengandung manfaat dan keutamaan


Nabi Ibarat Muhammad Pohon
Ummat Nabi Muhammad, manusia dan seluruh alam semesta ini adalah terbuat dari Nur Muhammad SAW. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa sebelum menciptakan alam semesta dan isinya Allah menciptakan terlebih dahulu Nur atau cahaya Nabi Muhammad SAW. Barulah yang lain diciptakan dari Nur tersebut. Alangkah agung dan mulyanya Nabi Muhammad. Jadi jika kita buat sebuah ibarat maka Nabi Muhammad SAW adalah sebuah pohon sedang yang lain cabang dan ranting. Cabang dan ranting akan ada atau muncul jika ada pohon. Jangan menghayal ada ranting jika pohon tidak ada.
Maka dari itu, cabang-cabang adalah para wali Allah dan para Ulama. Sedangkan masyarakat umum adalah ranting. Ranting jangan sampai lepas dari Cabang. Cabang tidak boleh lepas dari pohon. Ummat Islam tidak boleh putus hubungan dengan para wali Allah dan para ulama, demikian juga Wali Allah dan ulama tidak boleh lepas putus dari Nabi Muhammad SAW. Jika ranting lepas atau patah dari pohon, maka pasti ranting bisa dibuang atau dibakar. Ummat Islam juga begitu. Bila lepas dari ulama maka lepas dari ulama maka otomatis putus dari Nabi Muhammad SAW. Jika lepas atau putus hubungan dengan Nabi Muhammad, maka tempatnya tiada lain adalah api neraka. Naudzu Billahi MinDzalika.
Perintah Allah Tentang Shalawat
Shalawat adalah perintah langsung dari Allah SWT. Maka dari itu sebagai hamba kita wajib patuh dan tunduk terhadap perintah Allah. Apakah tidak cukup rahmat Allah kepada nabi Muhammad SAW? Tentu saja rahmat Allah untuk Nabi sangat dan sangat cukup. Bahkan Nabi Muhammad SAW sudah dijamin masuk sorga oleh Allah. Dengan shalawat yang dibaca, harapan kita adalah kita tidak putus dari Nabi Muhammad SAW. Putus dengan Nabi, maka alamat bahaya besar bagi keselamatan kita di dunia dan di akherat. Naudzu Billahi MinDzalika. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut. Maka dari itu, shalawat di samping memiliki keutamaan-keutamaan yang luar biasa, juga menjadi penghubung, perekat kita dengan Nabi Muhammad SAW.
Semoga manfaat.